BAZNAS Kabupaten Sleman dan BAZNAS se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) turut berpartisipasi dalam Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Peringatan 20 Tahun Gempa Bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang berlangsung di Lapangan Garuda, kawasan Candi Prambanan, pada 22–23 Mei 2026.
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menjadi penyelenggara acara ini.
Apel kesiapsiagaan ini bertujuan memperkuat budaya sadar bencana serta ketangguhan masyarakat dalam menghadapi risiko kebencanaan.
Komitmen BAZNAS dalam Mitigasi Bencana
Kehadiran BAZNAS Kabupaten Sleman bersama Baznas Tanggap Bencana (BTB) menunjukkan komitmen lembaga zakat tersebut.
Hal ini menegaskan dukungan dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana melalui kolaborasi lintas sektor.
Berbagai unsur pemerintah, relawan, organisasi kemanusiaan, hingga masyarakat turut terlibat dalam kegiatan ini.
Partisipasi tersebut menjadi wujud sinergi untuk membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Refleksi Dua Dekade Gempa Jogja 2006
Peringatan dua dekade Gempa Jogja 2006 menjadi momen refleksi bagi seluruh elemen masyarakat.
Tujuannya adalah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Pemerintah Daerah DIY selama ini terus memperkuat langkah mitigasi.
Langkah-langkah tersebut meliputi edukasi kebencanaan, peningkatan kapasitas personel penyelamat, perluasan kolaborasi, serta pemanfaatan teknologi berbasis data untuk mendukung identifikasi risiko bencana.
Pentingnya Budaya Kesiapsiagaan Menurut Sekda DIY
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, membacakan sambutan Gubernur DIY pada Apel Kesiapsiagaan Bencana dan Gelar Peralatan, Sabtu (23/05).
Ia menekankan bahwa peringatan 20 tahun Gempa Jogja harus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus membangun budaya kesiapsiagaan.
“Maka, peringatan 20 tahun Gempa harus menjadi momentum untuk mengukur sejauh mana kita belajar dan bersiap terhadap risiko bencana. Sebab, kesiapsiagaan adalah sebuah ekosistem yang mencakup infrastruktur umum yang aman dan berfungsi saat darurat, sistem informasi dan peringatan dini yang cepat, akurat, dan mudah dipahami warga, serta pendidikan kebencanaan sejak dini,” tegas Ni Made di Lapangan Garuda, Kompleks Candi Prambanan, Kabupaten Sleman.
Pengalaman Gempa Jogja 2006, menurut Ni Made, menjadi pijakan penting dalam membangun kebijakan kebencanaan yang lebih matang dan terarah.
Kesiapsiagaan tidak cukup hanya diwujudkan dalam tindakan sesaat, melainkan harus ditanamkan sebagai budaya hidup sehari-hari.
Nilai-nilai falsafah Jawa seperti “eling lan waspada” dan “hamemayu hayuning bawana” juga menjadi pengingat penting.
Masyarakat diingatkan agar senantiasa menjaga kesadaran terhadap lingkungan sekitar dan memperkuat harmoni antara manusia dan alam.
“Mari kita jadikan kesiapsiagaan sebagai budaya hidup sehari-hari. Peringatan 20 tahun Gempa Jogja sebagai janji bersama bahwa setiap pembangunan harus menghitung keselamatan dan setiap warga berhak hidup dalam lingkungan yang lebih siap, lebih tangguh, dan lebih berdaya,” ucapnya.
Masyarakat juga diajak untuk mengingat semangat gotong royong saat Gempa Jogja 2006 terjadi.
Kala itu, warga menjadi garda terdepan dalam proses evakuasi, pertolongan korban, hingga pemulihan pascabencana di tengah berbagai keterbatasan.
“Dari pengalaman itu kita belajar bahwa dalam bencana, korban dapat berjatuhan dalam hitungan detik. Tetapi keselamatan hanya dapat tumbuh dari kesiapsiagaan yang dibangun secara terus-menerus, jauh sebelum bencana terjadi,” lengkap Ni Made.
Sinergi Pentahelix dalam Penanggulangan Bencana
Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata sinergi seluruh unsur pentahelix.
Sinergi ini bertujuan memperkuat sistem penanggulangan bencana yang siaga dan berkelanjutan.
“Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mewujudkan budaya tangguh bencana dan memperingati dua dekade peristiwa gempa bumi Jogja dan Jawa Tengah sebagai pembelajaran berharga bagi bangsa,”. “Tapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko bencana termasuk potensi dampak fenomena El Nino yang dapat meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan serta gangguan sektor pertanian dan kehidupan masyarakat di wilayah terdampak,” ujarnya saat membacakan amanat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno.
Lilik menambahkan bahwa penguatan kesiapsiagaan sejalan dengan tiga pilar utama Kemenko PMK.
- Membangun pemahaman risiko bencana sebagai bagian dari budaya masyarakat.
- Memperkuat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor.
- Memanfaatkan teknologi dan sistem informasi terintegrasi untuk mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.
Partisipasi aktif BAZNAS Kabupaten Sleman dalam acara ini sekaligus menegaskan peran penting lembaga tersebut.
Peran ini mencakup dukungan terhadap aksi-aksi kemanusiaan dan kebencanaan.
Melalui Baznas Tanggap Bencana (BTB), BAZNAS Sleman terus berupaya hadir dalam penguatan kapasitas relawan, kesiapsiagaan masyarakat, dan kolaborasi penanggulangan bencana di wilayah Sleman dan DIY.
Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, peringatan 20 tahun Gempa Jogja diharapkan menjadi pengingat penting.
Kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat demi terciptanya lingkungan yang lebih aman, tangguh, dan berdaya menghadapi bencana.


