Jumat, 28 Agustus 2026
Hot

Hari Kebaya Nasional Perkuat Budaya, Kata Wali Kota Yogya

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, sebut Hari Kebaya Nasional momentum kuat pelestarian budaya. Acara ini dorong kebaya sebagai identitas perempuan Indonesia dan warisan dunia.

Article ad before first paragraph

Naufal ‘Affan Penulis | Ridwan Habibie Editor

HARIANEXPRESS, YOGYAKARTA – Hari Kebaya Nasional menjadi momentum penting memperkuat pelestarian budaya dan kecintaan terhadap kebaya sebagai identitas perempuan Indonesia, Jum’at (24/07/2026)

Pernyataan ini disampaikan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang sambutannya dibacakan Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Lucia Daning Krisnawati. Acara peringatan Hari Kebaya Nasional tersebut berlangsung di Plaza Monumen Serangan Oemoem 1 Maret Yogyakarta pada Jumat malam.

Wali Kota Hasto Wardoyo mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama berkomitmen dalam melestarikan kain dan kebaya sebagai warisan budaya bangsa Indonesia.

Article ad in the middle of article

“Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk melestarikan kain dan kebaya sebagai warisan budaya bangsa Indonesia,” ujar Hasto Wardoyo.

Menurutnya, kebaya adalah bagian tak terpisahkan dari perempuan Indonesia dengan nilai historis dan filosofis yang tinggi.

“Kebaya telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perempuan Indonesia serta memiliki nilai historis dan filosofis yang tinggi,” katanya.

Pengakuan UNESCO terhadap kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan diharapkan dapat menjadi pendorong kuat untuk upaya pelestarian. Selain itu, pengakuan ini juga bisa mengenalkan kebaya kepada masyarakat dunia.

“Menjadi cita-cita kita bersama agar kebaya semakin populer, dipakai kapan saja, di mana saja, semakin berkembang. Bahkan semakin mendunia di mancanegara,” kata Hasto Wardoyo.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menyoroti regenerasi sebagai tantangan utama dalam upaya pelestarian kebaya.

Ia menegaskan, pengakuan UNESCO bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab lebih besar untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.

“Regenerasi bukan berarti mengubah nilai kebaya, melainkan menghadirkan kebaya dalam bahasa zaman tanpa harus kehilangan jati dirinya,” ujar Dian Lakshmi Pratiwi (Kepala Dinas Kebudayaan DIY).

Generasi muda perlu diberi ruang untuk mencintai kebaya melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

“Anak-anak muda perlu diberi ruang untuk mencintai kebaya melalui cara-cara yang sesuai dengan dunianya. Mereka akan menjadi duta budaya Indonesia yang mampu membawa pesona kebaya ke panggung dunia,” katanya.

Pelestari budaya Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam, permaisuri KGPAA Paku Alam X, menyatakan Hari Kebaya Nasional merupakan gerakan budaya untuk menumbuhkan rasa bangga masyarakat.

Gerakan ini bertujuan agar kebaya sebagai identitas bangsa tetap lestari dan mendapatkan tempat istimewa di ruang publik modern.

“Melalui kegiatan ini, kita berharap kebaya akan semakin membumi dan mendapatkan tempat istimewa di ruang-ruang publik modern,” ujar GKBRAA Paku Alam (Permaisuri KGPAA Paku Alam X).

Peringatan Hari Kebaya Nasional Ke-3 ini diselenggarakan di Museum Monumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta, dengan tema “Pesona Kebaya Indonesia untuk Dunia”.

Acara tersebut menampilkan berbagai pertunjukan seni dan budaya, termasuk penampilan 600 pemain angklung berkebaya.

Kegiatan ini dihadiri oleh pegiat budaya, komunitas kebaya, pelaku UMKM, dan masyarakat dari berbagai daerah.

Peringatan Hari Kebaya Nasional menjadi bentuk komitmen bersama untuk melestarikan kebaya sebagai warisan budaya Indonesia.

Article ad after last paragraph